Melawan Misinformasi Digital: Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi (KESPRO) Remaja

·

·

Remaja saat ini tumbuh di lingkungan digital di mana akses terhadap informasi, termasuk konten seksual, sangat mudah dan tanpa filter. Permasalahan hari ini adalah: Banyak remaja memperoleh pemahaman tentang kesehatan seksual dan reproduksi (KESPRO) dari sumber yang tidak terverifikasi (misalnya, media sosial atau film), yang seringkali menyesatkan (misleading), tidak etis, dan mengabaikan risiko kesehatan serta tanggung jawab sosial-moral. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan kasus seks pra-nikah, kehamilan remaja, dan infeksi menular seksual (IMS).

Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru (Akbid Dharma Husada PKU) menyadari bahwa bidan memiliki peran krusial sebagai Edukator KESPRO Komprehensif yang mampu memberikan informasi seksualitas dan reproduksi yang akurat, berbasis bukti, dan sejalan dengan norma serta etika. Kami berkomitmen menghasilkan lulusan yang siap menjadi Konselor Remaja yang suportif, mampu membuka dialog, dan membantu remaja membuat keputusan yang bertanggung jawab atas tubuh mereka.


Tiga Kompetensi Utama Bidan Dharma Husada dalam Edukasi KESPRO Remaja

Lulusan Akbid Dharma Husada dilatih untuk mengintegrasikan ilmu reproduksi, komunikasi, dan etika dalam memberikan edukasi:

1. Konseling Sex Education Berbasis Bukti dan Etika

Edukasi harus faktual, etis, dan tidak menghakimi.

  • Fisiologi Reproduksi Akurat: Bidan dilatih untuk menjelaskan secara ilmiah dan faktual tentang anatomi, fungsi, dan risiko kesehatan reproduksi (kehamilan, menstruasi, ovulasi). Ini bertujuan untuk melawan mitos dan informasi keliru yang tersebar di media sosial.
  • Pendekatan Abstinence Plus: Mampu memberikan konseling dengan pendekatan yang mengutamakan Abstinensi (tidak melakukan hubungan seksual pranikah) sebagai pilihan paling aman dan etis, namun tetap memberikan informasi akurat tentang kontrasepsi dan pencegahan IMS bagi mereka yang sudah atau berisiko aktif secara seksual.

2. Edukasi Pencegahan IMS dan Bahaya Digital

Bidan harus mampu mengaitkan perilaku risiko dengan konsekuensi kesehatan.

  • Skrining Perilaku Risiko: Bidan dilatih melakukan skrining risiko perilaku secara sensitif dan rahasia pada remaja (misalnya, penggunaan alkohol/narkoba, aktivitas seksual berisiko) dan memberikan konseling pencegahan IMS (termasuk HPV dan HIV/AIDS).
  • Risiko Eksploitasi Digital: Mampu mengedukasi remaja tentang bahaya dan risiko eksploitasi seksual online (grooming), tekanan untuk mengirim foto intim (sexting), dan pentingnya menjaga privasi serta jejak digital.

3. Kemitraan Orang Tua dan Sekolah

Edukasi KESPRO harus didukung oleh lingkungan.

  • Fasilitasi Komunikasi Keluarga: Lulusan dilatih untuk menjembatani komunikasi yang sering kaku antara remaja dan orang tua mengenai isu seksualitas. Bidan berperan sebagai pihak netral yang mendorong dialog terbuka dan suportif di keluarga.
  • Advokasi di Sekolah: Mampu berkolaborasi dengan guru Bimbingan Konseling (BK) dan sekolah untuk menginisiasi Program Kesehatan Reproduksi Remaja (PKRR) yang terstruktur dan berkelanjutan, bukan sekadar respons reaktif terhadap kasus.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *