Di Indonesia, ribuan ibu masih meninggal setiap tahun karena komplikasi kehamilan dan persalinan seperti perdarahan, infeksi, dan hipertensi yang terlambat ditangani. Banyak bayi baru lahir meninggal dalam 28 hari pertama akibat asfiksia, infeksi, dan berat badan lahir rendah, yang bisa ditekan lewat pemantauan kehamilan yang baik dan persalinan aman oleh tenaga terlatih. Kondisi ini menunjukkan bahwa hak ibu dan bayi untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak belum sepenuhnya terpenuhi.
Kesenjangan Layanan antara Kota dan Daerah
Di kota-kota besar, ibu hamil relatif mudah mengakses puskesmas, rumah sakit, dan bidan dengan fasilitas yang lebih lengkap. Namun di daerah pinggiran dan pelosok, jumlah tenaga kebidanan terbatas, jarak ke fasilitas kesehatan jauh, dan sarana transportasi tidak selalu tersedia. Akibatnya, persalinan di rumah tanpa pendamping profesional masih terjadi, meningkatkan risiko komplikasi yang berujung pada kecacatan atau kematian ibu dan bayi.
Tantangan Kesehatan Reproduksi Remaja
Indonesia juga menghadapi masalah kehamilan usia remaja, kurangnya edukasi kesehatan reproduksi, serta tingginya kasus anemia pada remaja putri. Remaja dengan gizi buruk dan pengetahuan terbatas tentang reproduksi berpotensi mengalami kehamilan berisiko dan komplikasi saat persalinan di usia muda. Di sinilah peran bidan sebagai pendidik, konselor, dan pendamping kesehatan reproduksi menjadi sangat penting, bukan hanya di klinik tetapi juga di sekolah dan komunitas.
Pentingnya Bidan Profesional, Empatik, dan Inovatif
Jumlah bidan di Indonesia cukup besar, namun kualitas, pemerataan, dan pembaruan kompetensi masih menjadi tantangan utama. Era digital menuntut bidan yang bukan hanya mahir tindakan klinis, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi, membaca hasil riset, dan menjaga etika profesi dalam setiap pelayanan. Bidan masa kini diharapkan peka sosial, berempati tinggi, sekaligus inovatif dalam menemukan cara pelayanan yang ramah, efektif, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Peran DHPKU dalam Menjawab Tantangan Kesehatan
Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru berkomitmen mencetak bidan profesional dengan kompetensi klinis kuat, empati tinggi, dan semangat pengabdian melalui pembelajaran berbasis praktik, penelitian, dan kegiatan masyarakat. Kurikulum berbasis kompetensi, pelatihan klinik di fasilitas mitra, program pengabdian masyarakat, serta dukungan konseling dan bimbingan karier memastikan mahasiswa siap terjun langsung menjawab problem kesehatan ibu dan anak di berbagai wilayah. Dengan budaya akademik yang mendorong inovasi bidan muda dan jaringan luas rumah sakit serta klinik, DHPKU menyiapkan lulusan yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi membawa perubahan nyata bagi kesehatan keluarga Indonesia.



Leave a Reply