Alarm Merah Angka Kematian Ibu

·

·

Indonesia masih bergulat dengan angka kematian ibu yang tinggi, mencapai posisi ketiga di ASEAN dengan sekitar 189 kasus per 100.000 kelahiran hidup. Setiap hari, rata-rata 22 ibu kehilangan nyawa akibat perdarahan, preeklamsia, infeksi, atau komplikasi lain yang sebenarnya bisa dicegah dengan penanganan tepat waktu.

Situasi ini setara dengan satu gerbong kereta penuh ibu yang hilang setiap bulan, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas. Pemerintah melalui Kemenkes telah meluncurkan program penguatan kesehatan ibu dan anak, tapi tantangan akses, deteksi dini, dan distribusi tenaga kesehatan tetap menjadi hambatan utama.

Kesehatan Mental Ibu yang Terabaikan

Tak hanya fisik, ibu hamil dan nifas juga rentan mengalami kecemasan, baby blues, hingga depresi postpartum yang dialami hingga 70% kasus di Indonesia. Faktor seperti stres ekonomi, kurang dukungan keluarga, dan trauma persalinan memperburuk kondisi ini, berpotensi mengganggu ikatan ibu-anak dan tumbuh kembang bayi.

Bidan berperan krusial dalam skrining dini gangguan mental, konseling, dan edukasi keluarga, tapi banyak yang belum dilatih secara memadai untuk menangani aspek psikososial ini. Di tengah krisis, bidan harus multitasking: menyelamatkan nyawa fisik sekaligus menjaga kesehatan jiwa ibu.

Kekerasan Nakes: Ancaman Baru bagi Bidan

Kasus kekerasan terhadap tenaga kesehatan, termasuk bidan, semakin marak belakangan ini, dari verbal hingga fisik oleh keluarga pasien yang frustrasi. Kemenkes dan organisasi medis mengecam keras fenomena ini, menuntut perlindungan hukum yang lebih tegas bagi nakes yang bekerja di bawah tekanan tinggi.

Bagi bidan di komunitas, risiko ini nyata saat menangani kegawatdaruratan malam hari atau di daerah rawan konflik sosial, membuat profesi ini semakin menantang secara emosional. Pendidikan kebidanan modern harus memasukkan pelatihan manajemen konflik dan resiliensi mental.

DHPKU: Mencetak Bidan Tangguh dan Empatik

Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru menjawab krisis ini dengan kurikulum berbasis kompetensi, praktik klinik intensif, dan pengabdian masyarakat yang langsung menyentuh isu kesehatan ibu. Fasilitas modern, kerjasama rumah sakit mitra, dan bimbingan karir memastikan lulusan siap kerja di fasilitas kesehatan primer hingga rujukan.

Program penelitian inovasi bidan muda dan pelatihan empati membedakan DHPKU, membekali mahasiswa untuk deteksi dini komplikasi fisik-mental serta edukasi komunitas. Alumni seperti Siti Rahmawati membuktikan bagaimana pengalaman praktik membentuk bidan profesional yang dicintai masyarakat.

Panggilan untuk Generasi Bidan Baru

Di tengah darurat kematian ibu, profesi bidan bukan sekadar pekerjaan, tapi misi kemanusiaan menyelamatkan ibu dan bayi dari statistik tragis. DHPKU mengundang pemuda untuk bergabung, belajar dari dosen berpengalaman, dan berkontribusi nyata melalui praktik lapangan serta inovasi.

Setiap bidan terlatih adalah investasi bagi masa depan generasi Indonesia yang lebih sehat dan bahagia.

Oleh: Dr. (H.C.) Nurul Aini, M.Kes
Direktur Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *