AKI Masih Tinggi, Bayi Rawan Mati

·

·

Indonesia lagi darurat kesehatan ibu dan anak: setiap hari 11 ibu tewas saat hamil atau nifas, AKI stuck 189 per 100 ribu kelahiran—peringkat 3 ASEAN dan jauh banget dari target SDGs—sementara AKB 17 per 1.000 bayi lahir, sering gara-gara layanan dasar di desa timpang. Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru (DHPKU) hadir cetak bidan tangguh yang langsung turun lapangan, gabung teori klinik dengan pengabdian masyarakat biar krisis ini pelan-pelan reda.

Bidan Kurang di Pelosok, Ibu Hamil Terlantar

Kita punya 540 ribu bidan aktif nasional, tapi 70% numpuk di Jawa dan kota besar, sementara Papua, Maluku, NTT kekurangan parah—satu bidan layani ribuan jiwa. Akibatnya, ibu di kampung persalinan di dukun beranak atau mandiri, risiko pendarahan postpartum dan infeksi melonjak, apalagi pasca-banjir atau gempa di mana posyandu lumpuh.

Di Riau sendiri, data Dinkes bilang AKI naik 15% tahun lalu gara-gara hipertensi kehamilan telat ketahuan dan gizi buruk ibu hamil yang makin parah di musim kemarau panjang.

Burnout Bidan Lama, Lulusan Baru Kurang Siap Kerja

Bidan senior kelelahan: beban admin numpuk, pasien 24 jam, ditambah diagnosis lambat karena alat minim—bikin turnover tinggi dan mutu turun. Lulusan baru sering mentok teori doang, kurang jam praktik riil seperti ANC rutin atau resusitasi bayi, beda jauh dengan DHPKU yang langsung libatkan mahasiswa di RS mitra dan klinik lapangan.

Mental health ibu hamil juga terabaikan: depresi naik 30% pasca-pandemi, tapi bidan jarang dilatih deteksi dini.

DHPKU Pekanbaru: Praktik Langsung, Bidan Siap Tempur

Ini kekuatan DHPKU: kurikulum kompetensi dengan lab modern, praktikum RS mitra, plus pengabdian masyarakat yang bikin mahasiswa seperti Siti Rahmawati langsung paham layani komunitas lokal. Mulai daftar online, konsultasi dosen, lalu praktek klinik—semua terarah, fleksibel, dan fokus inovasi seperti penelitian bidan muda soal gizi remaja hamil.

Kemitraan RS Pekanbaru buka magang nyata, konseling karier siapin lulusan buat Puskesmas pelosok atau klinik swasta—bukan ijazah doang tapi skill etika dan empati.

Bidan Kuat, Bangsa Sehat: Mulai dari Pekanbaru

Krisis AKI-AKB ini bukan nasib, tapi panggilan buat regenerasi bidan profesional yang dekat masyarakat—dan DHPKU buktiin itu lewat lulusan empatik, inovatif, siap hadapi tantangan lapangan apa pun. Kalau ribuan bidan seperti ini nyebar ke desa-desa, angka kematian ibu turun drastis, bayi lahir kuat, generasi emas 2045 jadi kenyataan—itu misi nyata kampus ini.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *