Kematian ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi masalah besar dengan angka 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup, menjadikan Indonesia berada di peringkat ketiga di Asia Tenggara. Kondisi ini didominasi oleh kasus perdarahan dan preeklamsia yang sebenarnya dapat dicegah dengan pelayanan bidan yang tepat dan profesional. Namun, Indonesia menghadapi krisis kekurangan bidan dengan gap sekitar 200.000 tenaga bidan yang sangat diperlukan, terutama di wilayah Papua dan daerah timur Indonesia yang akses kesehatannya masih sangat terbatas.
Selain itu, masalah stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar. Prevalensi stunting nasional berhasil turun ke angka 19,8% pada 2025, tetapi prevalensi masalah gizi seperti underweight mulai meningkat kembali. Hal ini diperparah oleh kurangnya konseling menyusui eksklusif dari tenaga kesehatan yang menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan tumbuh kembang anak.
Ketimpangan Jumlah Bidan dan Tantangan Pelayanan di Daerah
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah bidan aktif di Indonesia hanya mencapai 344.928 orang, jauh dari target kebutuhan yang mencapai 558.005. Ketimpangan jumlah tenaga bidan ini menyebabkan pelayanan kesehatan ibu dan anak di berbagai daerah, khususnya di Papua dan provinsi timur lainnya, masih sangat minim. Wilayah ini juga kerap mengalami bencana dan perubahan iklim ekstrem yang semakin memperberat tugas bidan sebagai garda terdepan kesehatan ibu dan anak.
Krisis ini juga diperparah oleh maraknya hoaks kesehatan, khususnya terhadap pemberian vaksin dan ASI eksklusif, yang membuat para bidan harus bekerja ekstra keras untuk memberikan edukasi dan membangun kepercayaan masyarakat.



Leave a Reply