Peran bidan melampaui tugas klinis di ruang bersalin. Bidan adalah jembatan antara informasi medis dan realitas sosial di masyarakat. Di tengah isu-isu seperti pernikahan anak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan pengambilan keputusan kesehatan yang didominasi oleh pihak lain, bidan memegang peran penting sebagai agen kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Akademi Kebidanan Dharma Husada Pekanbaru menyadari bahwa lulusan D-III Kebidanan harus dilengkapi dengan kepekaan sosial dan keterampilan advokasi untuk melindungi hak-hak kesehatan reproduksi perempuan.
1. Bidan sebagai Advokat Hak Kesehatan
Kesetaraan gender dalam konteks kesehatan berarti setiap perempuan memiliki hak yang sama dalam membuat keputusan tentang tubuh dan kesehatannya. Mahasiswa AKBID Dharma Husada dilatih untuk:
- Mendukung Otonomi Tubuh: Membekali perempuan dengan informasi yang jelas tentang pilihan kontrasepsi dan persalinan, memastikan keputusan diambil secara mandiri dan tanpa paksaan.
- Deteksi Dini dan Rujukan KDRT: Mengidentifikasi tanda-tanda KDRT atau kekerasan seksual selama pemeriksaan rutin dan mengetahui prosedur rujukan yang aman ke lembaga perlindungan perempuan.
- Menyuarakan Pencegahan Pernikahan Anak: Menggunakan Posyandu dan kegiatan komunitas sebagai platform untuk mengedukasi masyarakat tentang risiko kesehatan dan sosial dari pernikahan dini, yang merupakan pelanggaran hak anak perempuan.
2. Pemberdayaan Ekonomi dan Kesehatan
Pemberdayaan ekonomi seringkali berkorelasi langsung dengan kesehatan ibu. Bidan dapat berperan sebagai fasilitator:
- Edukasi Keterampilan Hidup: Memberikan penyuluhan yang mengaitkan kesehatan keluarga dengan perencanaan keuangan, mendorong ibu untuk memiliki kendali atas sumber daya keluarga.
- Dukungan Kelompok Ibu: Memfasilitasi pembentukan kelompok pendukung (support group) di komunitas untuk berbagi pengalaman, meningkatkan kepercayaan diri, dan mendorong partisipasi perempuan dalam kegiatan masyarakat.
3. Kesehatan Reproduksi dari Perspektif Sosial
Kurikulum di AKBID Dharma Husada dirancang untuk mengajarkan mahasiswa melihat masalah kesehatan reproduksi tidak hanya dari sisi biologis, tetapi juga dari perspektif sosial, budaya, dan gender. Hal ini memastikan lulusan mampu memberikan asuhan yang peka budaya dan menghargai keragaman pengalaman perempuan.
Dengan bekal ilmu klinis dan jiwa advokasi, lulusan AKBID Dharma Husada Pekanbaru siap menjadi pelopor perubahan sosial yang mendukung kesehatan dan kesetaraan bagi semua perempuan di Riau.



Leave a Reply